This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Nasdem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasdem. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juli 2017

Nasdem Mulai Merencanakan Untuk Menduetkan Gatot Nurmantyo Dengan Jokowi Di Pilpres 2019 Mendatang

Nasdem Mulai Merencanakan Untuk Menduetkan Gatot Nurmantyo Dengan Jokowi Di Pilpres 2019 Mendatang - NasDem mulai mewacanakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai calon wakil presiden, untuk mendampingi Joko Widodo atau Jokowi pada pemilihan presiden 2019. Anggota Dewan Pakar NasDem, Taufiqulhadi mengungkap alasannya memunculkan nama jenderal bintang empat itu. "Yang harus dipahami di Indonesia adalah sebuah negara yang luas dengan katar belakang keberagaman. Maka kita harus mendesain politik itu untuk mengakomodir semua kepentingan tersebut," kata Taufiqulhadi di Gedung DPR, Jakarta.

Jokowi Dan Gatot Nurmantyo
Jokowi Dan Gatot Nurmantyo
Oleh karenanya, Taufiqulhadi mengatakan pihaknya memikirkan sejumlah pertimbangan untuk memunculkan nama cawapres. Pertama, terkait asal calon dari Pulau Jawa. Sebab, masyarakat Indonesia mayoritas berada di Pulau Jawa. "Mungkin 60 persen, diluar Jawa 40 persen kalau kita ingin mendudukkan politik dalam Indonesia seharusnya selalu kita melihat faktor Jawa. Seperti sekarang yang ideal," kata anggota Komisi III DPR itu.

Kedua, kata Taufiqulhadi, faktor sipil dan militer. Ia menyebutkan adanya anggapan masyarakat faktor militer lebih disiplin. NasDem, ujar Taufiqulhadi, sempat mendukung pasangan Jawa-luar Jawa yang tercermin dari pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. "Tapi kalau sekarang ini kami berpikir kita padukan sipil dan militer," kata Taufiqulhadi.

Taufiqulhadi mengakui NasDem belum memutuskan nama untuk diusung dalam Pemilihan Presiden 2019. Sebab, partai pimpinan Surya Paloh itu belum mengambil keputusan dalam forum Rakornas dan Rapimnas. "Menurut saya suara itu besar dalam kubu Fraksi NasDem. Karena itu kami menegaskan duetnya adalah sipil. Pak Jokowi dan Pak Gatot," kata Taufiqulhadi.

Namun menurut pengamat politik Sebastian Salang mengatakan terlalu dini Partai NasDem mewacanakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai pendamping Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2019 mendatang. Sebastian Salang mengatakan politik di Indonesia sangat dinamis, setiap saat bisa berubah. - Nasdem Mulai Merencanakan Untuk Menduetkan Gatot Nurmantyo Dengan Jokowi Di Pilpres 2019 Mendatang

Rabu, 21 September 2016

Syarat Megawati Kepada Ahok Setelah Di Calonkan PDI-P Di Pilgub DKI 2017

Syarat Megawati Kepada Ahok Setelah Di Calonkan PDI-P Di Pilgub DKI 2017 - Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri telah memutuskan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat sebagai bakal calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta yang akan di dukung oleh PDI-P. Namun di balik dukungan nya tersebut, ternyata Megawati meminta syarat kepada ahok agar partainya diposisikan sebagai partai pengusung utama mereka sebagai bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur di Pilgub 2017 yang akan datang.

Ahok Beserta Megawati Soekarnoputri
Ahok Beserta Megawati Soekarnoputri

Syarat yang di minta kepada Ahok juga telah di setujui oleh Ahok. Sebelum PDI-P bergabung, Ahok telah di dukung oleh tiga partai politik yakni Hanura, Nasdem, dan Golkar. Baik dari ketiga partai pendukung Ahok tersebut juga tidak keberatan apabila PDI-P menjadi partai pengusung. Partai Golkar juga mendukung keputusan dari PDI-Perjuangan yang telah mengusung pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan wakil nya Djarot Syaiful Hidayat dalam pilkada DKI Jakarta.

Sekjen Golkar Idrus Marham menilai pasangan Ahok-Djarot dapat melanjutkan kebijakan yang telah direncanakan untuk pembangunan ibu kota. "Saya kira bagus dong. Artinya PDIP sejalan dengan pikiran Golkar bahwa pasangan yang bagus itu jangan dibongkar-bongkar," kata Idrus di Gedung DPR, Jakarta. Idrus mengatakan bergabungnya PDI Perjuangan dengan barisan pendukung Ahok tidak memiliki masalah.
Sebab, barisan pendukung Ahok bertujuan untuk memenangkan Pilkada DKI Jakarta.

Ia pun tak mempermasalahkan adanya perombakan tim sukses Ahok yang sudah terbentuk. Tim pemenangan terdiri dari Golkar, Hanura, NasDem dan Teman Ahok. "Kenapa susah-susah? yang penting menang. Andaikata kita tidak kerja sudah menang, orang kerja bagus kan. Tetapi kan tidak begitu, namanya politik ada kebersamaan, sinergitas, koordinasi, kita tidak boleh terlalu over confidence juga karena politik itu dinamis" imbuhnya.

Sebagai koalisi pendukung, Partai Hanura, Nasdem dan juga Golkar akan sama-sama berjuang untuk memenangkan pasangan Ahok-Djarot hingga final. Ketiga partai tersebut bersama dengan PDI-Perjuangan beserta juga Teman Ahok akan terus mengawal jalan nya pilkada dari awal hingga akhir. - Syarat Megawati Kepada Ahok Setelah Di Calonkan PDI-P Di Pilgub DKI 2017