Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat Kembali Diusir Usai Menunaikan Salat Jumat Di Masjid Jami' Al'Atiq - Tindakan tak menyenangkan kembali dialami calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Usai menunaikan salat Jumat di Masjid Jami' Al'Atiq di wilayah Tebet, Jakarta Selatan, sebagian jemaah meneriaki, menolak kehadiran mantan Wali Kota Blitar tersebut. Aksi ini terjadi saat Djarot hendak keluar masjid usai menunaikan salat Jumat. "Pergi, pergi," teriak beberapa jemaah. Beberapa warga lain memekikkan takbir. Menghadapi hal ini, Djarot tersenyum sambil berjalan santai keluar masjid.
![]() |
| Calon Wakin Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat |
Pasangan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok itu pun menegaskan, sudah tulus memaafkan tindakan mereka yang tidak menyukainya. "Bahkan yang lebih keras daripada itu pun saya maafkan kok ya, betul-betul saya maafkan dari dalam hati yang terdalam," ujar Djarot. Ia mengatakan, Islam mengajarkan untuk saling menyayangi, termasuk dengan orang yang berbeda agama. Apalagi, ia menambahkan, dirinya merupakan seorang Muslim.
Djarot mengharapkan, ke depan tidak ada lagi isu SARA yang dimunculkan menjelang pencoblosan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, 19 April mendatang. Pengusiran Djarot Saiful Hidayat dari Masjid al-Atiq ini sangat mengejutkan semua pihak. Tindakan tersebut dianggap berlebihan, bahkan tidak sesuai dengan akhlak Islam.
"Saya memandang, pengusiran cawagub Djarot Saiful Hidayat merupakan tindakan yang sangat memalukan. Pasalnya, perlakuan tersebut tidak sesuai dengan akhlak Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW," ujar Zuhairi Misrawi, intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), melalui keterangan resminya, Jumat 14 April.
Zuhairi menambahkan, dalam buku sejarah Islam diceritakan ketika Nabi Muhammad SAW menerima tamu Kristen Najran di Masjid Madinah. Perbedaan agama tidak menjadi halangan untuk tidak menghargai tamu yang sedang bertandang ke masjid Nabi.
"Ini kan cawagub Djarot seorang muslim taat, hendak melaksanakan salat Jumat. Ia kader NU tulen, dan berjasa bagi umat Islam di Jakarta. Kok bisa-bisanya diteriakin dan diusir dari masjid. Saya memandang, politisasi masjid sudah masuk dalam kategori meresahkan dan mengkhawatirkan," ujar lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir ini.
Untuk itu, lanjut Zuhairi, harus ada tindakan tegas terhadap pengurus Masjid Al Atiq, karena secara terang-terangan melakukan atau membiarkan kampanye di dalam masjid. Begitu halnya pihak-pihak lain yang menggunakan masjid sebagai tempat kampanye. "Kalau kita melihat aturan, jelas sekali ada larangan keras agar tidak menggunakan tempat ibadah, termasuk masjid sebagai tempat kampanye dan melakukan diskriminasi karena perbedaan sikap politik dalam pilkada. Jadi, Panwaslu harus mengambil tindakan tegas," tambah dia.
"Yang dikhawatirkan, jika tindakan pengusiran cawagub Djarot ini dibiarkan, maka radikalisme di Jakarta makin menguat. Kita tidak ingin Jakarta seperti Mesir di masa lampau, yang masjidnya dikuasai kaum radikal yang mudah ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu," pungkas Zuhairi. - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat Kembali Diusir Usai Menunaikan Salat Jumat Di Masjid Jami' Al'Atiq








0 komentar:
Posting Komentar